Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali
| Gereja Kristen | |
![]() |
|
GKPB Jemaat Bukit Doa Nusa Dua |
|
| Nama Penanggungjawab | Pdt. Paulina Jansri Dangga, S.Si.Teol |
| Telpon Penanggungjawab | 0361-776807 |
| Jadwal Ibadah | Bahasa Indonesia jam 08.00 wita Bahasa Inggris jam 10.30 wita Oikumene jam 18.00 wita |
| Alamat | Kompleks Puja Mandala Dusun Nusa Dua, Jalan Kuruksetra, Benoa, Kuta Selatan, Benoa, Badung, Kabupaten Badung, Bali 80361, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung |
SEJARAH PENDIRIAN GEREJA KRISTEN PROTESTAN BUKIT DOA DI PUJA
MANDALA
Di masa
pemerintahan Presiden Soeharto, pada tanggal 22 Maret 1994, atas prakarsa Bapak
Yoop Ave yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pemda Kabupaten Badung menghibahkan lahan
seluas dua hektar kepada Bali Tourism Development Center (BTDC) yang sekarang
menjadi Indonesian Tourism Development Center (ITDC) di Nusa Dua, di jalan
Kuruksetra, di lingkungan Desa Kampial,
Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan,
untuk membangun sebuah kawasan dimana kelima agama yang diakui di
Indonesia pada waktu itu, yaitu: Hindhu, Islam, Buddha, Kristen Khatolik dan Kristen
Protestan mendapat bagian luas yang
sama untuk membangun rumah peribadatannya, untuk mencerminkan toleransi antara
umat beragama di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Proyek ini
merupakan bagian dari program pemerintah di bidang agama, yang meliputi
pengembangan iman, pengembangan kerukunan antar umat beragama dan keterlibatan
umat beragama dalam pembangunan nasional.
Gereja Kristen
Protestan di Bali (selanjutnya disingkat menjadi GKPB), atau dikenal dengan
nama ”Gereja Bali“, yang terpilih untuk mewakili gereja-gereja Kristen
Protestan yang ada di Bali, yang tergabung dalam wadah ekumenis keesaan MPAG
(Musyawarah Pelayanan Antar Gereja) Provinsi Bali, dan sekarang telah berubah
namanya menjadi MPUKPB (Musyawarah Pelayanan Umat Kristen Provinsi Bali). ITDC
memberikan lahannya, namun setiap agama harus membiayai sendiri pembangunannya.
Peletakan batu
pertama untuk pembangunan gereja dilaksanakan pada tahun 1994. Pembangunan
diselenggarakan dengan ketua panitia Bapak Pdt I Nyoman Nama Suyasa, S.Th.,
rancang arsitektur Bapak Ir. Wayan Sudarma, rancang struktur Bapak Ir. I Ketut
Yasa Bagiarta dan arahan filosofis dari Bapak Bishop Dr. I Wayan Mastra yang
menjadi pimpinan GKPB saat itu. Gereja Baden di Jerman turut serta membantu
pendanaan bagi pembangunan lantai pertama untuk tempat peribadatan dan lantai
kedua untuk ruang serbaguna serta menyumbangkan lonceng gereja. Gereja Baden membantu pendanaan pembangunan gereja untuk
mendukung kerinduan Gereja Bali memiliki tempat pameran karya seni dan
pementasan sendratari dan musik rohani Kristiani serta membangun suatu pusat
kajian di mana para pemuka agama, rohaniawan, budayawan, negarawan, tokoh
masyarakat dari berbagai pelosok nusantara maupun mancanegara dapat datang dan
duduk bersama untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang berguna dalam
mengembangkan perdamaian di Bali, Indonesia dan dunia. Hal ini dilandasi
perkataan Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India, dalam kunjungannya ke pulau
Bali pada tahun 1950 bahwa “Bali adalah
fajar dunia”. Komentar Nehru ini mengandung pengharapan bahwa dari Bali
akan lahir banyak gagasan dan karya yang bermanfaat bagi dunia.
Gereja selesai
dibangun dan diresmikan pada tahun 1997 dengan nama Gereja Kristen Protestan
Bali Bukit Doa. Bangunan gedung ini diresmikan/ditahbiskan dalam sebuah ibadah
dengan penandatanganan prasasti oleh Bapak Bishop Dr. I Wayan Mastra mewakili
GKPB dan Pdt Dr. Karl Epting mewakili Gereja Baden di Jerman pada tanggal 22
Maret 1997. Dalam acara peresmian tersebut dipamerkan karya lukisan Bapak
Nyoman Darsane dan pementasan sendratari karya Yayasan GKPB Divya Pradhana
Bhakti.
Komplek Puja Mandala itu sendiri diresmikan pada tanggal 20
Desember 1997 oleh Menteri Agama Bapak
Tarmizi Taher dan Gubernur Bali Bapak Ida Bagus Oka. Pada tahun 1997, yang
disahkan baru Masjid Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa,
dan Gereja Kristen Protestan Bukit Doa. Kemudian diikuti pada tahun 2003,
Vihara Buddha Guna dan tahun 2005, Pura Jagat Natha.
Nama Bukit Doa ini dipilih dengan harapan bahwa gereja ini menjadi
tempat di mana umat memanjatkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk
kebaikan seluruh ciptaanNya. Bukit atau gunung dalam kitab suci agama Kristen
melambangkan tempat perjumpamaan umat dengan Tuhan Yang Mahatinggi. Karena
itulah tempat peribadatan dibangun di lantai paling atas, dan di lantai
dasar (lantai 6) dibangun duabelas bilik
doa bagi jemaat maupun wisatawan rohani untuk berdoa.
Tempat peribadatan Gereja Kristen Protestan Bukit Doa yang
terletak di lantai paling atas gereja dirancang dengan langgam kekristenan
berpadu dengan rancang arsitektur dan ornamen bernuansa etnis Bali. Rancangan
ini dilandasi teologi kontekstual Gereja Bali yang diejawantahkan melalui motto
“Tubuhku adalah Bali, Rohku adalah
Kristus”, yang mengungkapkan keinginan umat Kristen Bali sebagai orang Bali
pemeluk agama Kristen untuk tetap memelihara jati diri sebagai orang Bali
dengan menghargai serta melestarikan seni budaya Bali. Bangunan Gereja Kristen
Protestan Bukit Doa dirancang sedemikian rupa agar selaras dengan bangunan
rumah-rumah ibadat di sebelah menyebelahnya. Dari dalam tempat peribadatan yang
terbuka bisa melihat keempat rumah ibadat lainnya yang dibangun berdampingan
satu sama lain (yaitu Pura Jagat Natha di sebelah kanannya dan Vihara Buddha
Guna di sebelah kirinya, dan juga melihat Gereja Katolik Maria Bunda Segala
Bangsa dan Masjid Agung Ibnu Batutah dari kejauhan) untuk mencerminkan
keharmonisan umat beragama.
Tampilan depan gereja, ada menara
lonceng di sebelah kiri dan ada
balai pertemuan di sebelah kanannya.
- Lonceng melambangkan panggilan bagi umat untuk beribadah kepada Tuhan dan
hidup dalam pengabdian kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesama.
- Sedangkan balai pertemuan (bale bengong) melambangkan tempat musyawarah dimana umat
dalam pertemuan-pertemuan duduk bersama untuk menghasilkan keputusan bagi
kepentingan bersama, yang akan mendukung kehidupan persekutuan dalam
kesatuan dan ikatan kasih mesra satu sama lain. Balai pertemuan ini
sekaligus melambangkan menara jaga yang
mengingatkan umat untuk senantiasa hidup berjaga-jaga agar selalu ada
dalam keadaan siap siaga (hidup dalam kasih, kebenaran dan kesucian) untuk
menghadapi peradilan Tuhan, mempertanggungjawabkan seluruh kehidupannya di
hadapan Tuhan, pada Akhir Zaman, yang pasti akan terjadi namun tidak
diketahui kapan harinya.
<!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Tempat
peribadatan di lantai paling
atas Gereja Bukit Doa dirancang sebagai ruangan terbuka dengan konsep
keharmonisan hidup manusia dengan Tuhan,
sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Ibadah yang benar menurut ajaran
Kristen, bahwa penyembahan kepada Tuhan mengandung kewajiban mengasihi sesama
umat manusia dan ikut serta memelihara dan menjaga kelestarian seluruh alam
ciptaan Tuhan. Penyembahan kepada Tuhan dilambangkan dengan ornamen kaca bergambarkan mahkota (Tuhan sebagai raja yang
berdaulat atas manusia dan yang patut disembah) pada langit-langit gereja, darimana terang matahari menembus masuk
menerangi seluruh ruangan peribadatan, dengan mana menyatakan kehadiran Tuhan
di tengah-tengah umat melalui pengetahuan, pengenalan dan pengalaman nyata akan
Dia. Sesama manusia dilambangkan dengan umat yang mengisi kursi-kursi di tempat
peribadatan; dan alam dilambangkan dengan pemandangan langit, laut, pepohonan
dan burung-burung di udara maupun yang sering hinggap di pelataran gereja.
- Altar setiap hari dihias dengan pajangan tanaman hidup untuk
menampilkan karya alam ciptaan Tuhan
- Di atas altar ada relief berbentuk gunungan (atau kayon
dalam bahasa Bali). Gunungan biasanya ditampilkan mengawali dan
mengakhiri pementasan pertunjukan wayang kulit, melambangkan Tuhan sebagai
Yang Awal dan Yang Akhir, (atau A dan Nya
dalam abjad Bali).
<!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Ukiran di dalam
gunungan berisi burung merak, yaitu
burung yang terkenal karena kecantikannya, dan tanaman anggur yang merambat dan yang menghasilkan buah yang lebat.
Burung merak melambangkan ajakan bagi umat agar hidupnya menjadi kesaksian yang
indah dan menghasilkan buah-buah kehidupan yang mendatangkan kemuliaan bagi
Tuhan. Secara keseluruhan gunungan ini hendak menjelaskan bahwa Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi serta segala isinya sejak awal penciptaan bermaksud agar ciptaanNya baik, dan bahwa Dia terus
giat berkarya untuk kebaikan keutuhan ciptaanNya, dan akan mengakhiri dengan memperbaharui ciptaanNya menjadi baik menurut
rancanganNya yang indah dan sempurna. Tujuan ini yang menjadi titik tolak umat
manusia sepanjang masa dalam setiap masa kehidupannya supaya melakukan
pekerjaan-pekerjaan baik yang berguna untuk membangun landasan buat
mengembangkan peradaban dan tatanan kehidupan yang semakin baik dan yang
berkelanjutan bagi generasi-generasi berikutnya.
- Di puncak gunungan ada ukiran merpati, yang melambangkan
Roh Kudus, salah satu pribadi Tuhan yang Tritunggal, yang mengilhami
segala gagasan dan karya bagi pengembangan landasan dan tatanan yang baik
bagi keutuhan dan kesinambungan ciptaanNya.
- Di bagian atas gunungan
terdapat ukiran dua malaikat yang
saling berhadapan, sama seperti dua kerub malaikat yang ditugaskan menjaga
Taman Eden di dalam Kisah Penciptaan, juga dua malaikat yang diukir di
atas tabut perjanjian Tuhan di zaman Musa, serta penampakan dua malaikat
di tempat mayat Yesus dikubur yang
mengabarkan kebangkitan Yesus kepada orang-orang yang datang untuk melayat
ke kuburan Yesus.
- Di dalam gunungan terukir sebuah bangunan
dan logo Gereja Bali.
<!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Ukiran bangunan melambangkan hati manusia
sebagai tempat kediaman Roh Tuhan, di mana Tuhan berkarya atas diri seseorang
dan melalui orang tersebut.
<!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Ukiran kaca logo Gereja Bali bagian luarnya berbentuk lingkaran bulat telur, melambangkan
hidup kerohanian umat terdiri dari tiga lapisan; lapisan terdalam adalah intisari kehidupan iman yang batinnya
berpusatkan mencari kehendak Tuhan supaya dapat hidup selaras dengan kehendak
dan rancangan Tuhan, sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkanNya, dengan
menjaga batinnya, yaitu bagian manusia yang tidak kelihatan oleh manusia namun
terlihat oleh Tuhan, agar suci sehingga berkenan di hadapan Tuhan; lapisan tengah adalah kehidupan
keagamaan yang diungkapkan melalui penyelenggaraan ritual-ritual
persembahyangan seperti ibadah dan sakramen; dan lapisan terluar menunjukkan kehidupan manusia yang nampak lewat
perkataan, sikap, budi pekerti, amal perbuatan dan kegiatan-kegiatannya yang
didorong oleh batin rohaniahnya.
<!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Logo Gereja Bali memiliki keunikan karena
berisikan gambar salib yang menari.
Umumnya di dunia salib digambarkan dalam posisi tegak lurus. Salib yang menari,
melambangkan Yesus Kristus yang telah
mengorbankan diriNya menderita dan mati di atas kayu salib sebagai korban penebusan untuk menanggung
dosa seluruh umat manusia, namun Ia bangkit dari kematian dan hidup.
Kebangkitan Yesus dari kematian menunjukkan kemenangan Yesus atas kematian dan
atas iblis, yang meniadakan sengatan maut oleh iblis atas manusia dan
memberikan hidup kekal kepada manusia. Karya Yesus yang agung ini diekspresikan
dalam ungkapan seni bahwa Yesus sanggup menarikan kematian menjadi tarian
kehidupan yang abadi. Salib menari juga mengilustrasikan kemampuan kuasa Yesus
membengkokkan salib hingga patah, dan dengan ini mengubah maksud tujuan salib
dari sarana kutuk menjadi sarana berkat yang mendatangkan kehidupan bagi
seluruh umat manusia di bumi. Dalam tarian salib, terkandung juga di dalamnya
ajakan kepada umat meneladani Yesus agar rela berkorban menyangkali diri
(menolak godaan hawa nafsu cemar yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang
bersumber dari iblis dan roh-roh jahat pengikutnya) dan memikul salib (sedia
menderita) demi mendatangkan kehidupan bagi sesama. Salib yang menari juga
melambangkan kesanggupan umat menjawab segala tantangan yang dihadapi dalam
konteks kekinian di tiap masa, dengan menyelaraskan setiap langkah tarian
kehidupan mengikuti pimpinan Yesus menurut rencana Tuhan yang kekal. Logo ini
dibuat oleh salah satu seniman Kristen, Bapak I Nyoman Darsane, dan mulai
digunakan sejak tahun 1977.
- Di bagian bawah gunungan
ada dua hiasan bundar yang
menyerupai hiasan liontin telinga di
Bali, di dalamnya ada ukiran motif bunga, melambangkan telinga haruslah
terbuka untuk mendengar dan meneruskan hanya apa yang benar, yang mulia,
yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut
kebajikan dan patut dipuji, yang bersumber dari Tuhan buat kebaikan
sesama.
- Jendela berukir kayu masing-masing di sebelah kanan dan
kiri gunungan melambangkan tuntunan dan perlindungan Tuhan, siang maupun
malam, sepanjang perjalanan kehidupan umatNya.
- Tempat peribadatan dikitari pagar rendah yang berhiaskan lampu, melambangkan ajakan
bagi umat untuk memantulkan terang Tuhan kepada lingkungan sekitarnya.
Agar tidak menyembunyikan terang Tuhan, melainkan meletakkannya di ketinggian
di atas bukit, agar jangkauan terangnya luas. Hal ini mengandung pesan
bahwa ajaran Kristiani harus berdampak bagi masyarakat luas sekitarnya
untuk menghasilkan transformasi atau perubahan kehidupan menurut
nilai-nilai yang diterangi Tuhan.
- Lantai ruang peribadatan dibuat berbentuk salib, melambangkan penyucian
umat oleh karya agung penebusan Yesus di atas kayu salib untuk menanggung
dosa seluruh umat manusia demi keselamatan umat manusia agar tidak binasa
oleh dosanya. Sebab Tuhan yang Mahasuci tidak dapat dihampiri manusia yang
tercemar dosa. Namun penyucian manusia dari dosa oleh darah Yesus inilah
yang melayakkan umat untuk bisa dengan penuh keberanian menghadap Tuhan
untuk memperoleh kasih karunia, rahmat dan pertolongan Tuhan tepat pada waktunya.
- Ada duabelas pilar yang menyangga tempat peribadatan. Bentuk pilar yang melingkar melambangkan
kekekalan dan kasih setia Tuhan yang abadi dan tidak pernah putus-putusnya
bagi umat manusia; sedangkan hiasan
bunga teratai pada ujung atas pilar melambangkan mahkota hidup
berkemenangan atas kemelut prahara badai kehidupan yang menimpa umat
manusia bagi orang yang hidupnya berakar, berpegangan kuat dalam
pengandalan kepada Tuhan, Sumber Pertolongan dan Keselamatan, sebagaimana
tanaman teratai yang berakar di tanah di bawah air mampu mengatasi
gelombang arus air dan menampilkan bunga yang indah di atas permukaan air.
- Atap gereja berbentuk kepakan sayap, melambangkan tangan Tuhan yang mengayomi dan melindungi umatNya, yang menyiratkan janji penyertaan, pemeliharaan, tuntunan dan perlindungan Tuhan bagi umatNya.
Gereja Kristen
Protestan Bukit Doa tidak hanya menjadi tempat beribadah bagi jemaat tapi juga bagi wisatawan domestik dari
berbagai penjuru Nusantara dan wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung ke
Bali. Ibadah di hari Minggu diselenggarakan tiga kali, dengan jadwal sebagai
berikut:
- pukul 08.00 dalam bahasa Indonesia,
- pukul 10.30 dalam bahasa Inggris untuk jemaat Internasional
- pukul 18.00 dalam bahasa Indonesia.
Jemaat Gereja
Kristen Protestan Bukit Doa terdiri dari beragam suku yang ada di Indonesia.
Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu,
digaungkan dalam perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember tiap tahun, melalui
pementasan tari, pujian dan busana bernuansa etnis oleh perwakilan suku-suku
yang ada di jemaat.
Saat ini Gereja
Bukit Doa tengah direnovasi.
Demikian penulisan sejarah pendirian Gereja Kristen Protestan di Bali Jemaat Bukit Doa di komplek Puja Mandala.
Salam damai sejahtera,
damai di Bali, damai di Indonesia, damai di dunia
Pdt Made Gunaraksawati Mastra ten Veen, S.E., M.Div.
Sejarah Jemaat Gereja GKPB Jemaat “Bukit Doa” itu sendiri diawali kunjungan Bapak Pdt Nyoman Nama Suyasa, S.Th. (dari Departemen Kesaksian dan Pengembangan GKPB), Bapak Pdt Ketut Suyaga Ayub, S.Th (Pendeta GKPB Jemaat Legian-Kuta) pada tanggal 6 Februari 1990 ke Bapak Noer Wachid (Majelis GKPB Jemaat Kwanji), yang waktu itu berdomisili di Nusa Dua, untuk membicarakan rencana GKPB membentuk Persekutuan Pembinaan Iman bagi umat Kristen yang tinggal di kawasan Nusa Dua. Selain Bapak Noer Wachid, mereka juga telah mendatangi Bapak I Gusti Nyoman Suyasa (Majelis di GKPB Legian), Bapak I Gusti Ketut Rahayu (anggota jemaat GKPB Padang Luwih) dan Bapak Drs. Ketut Putra Suarthana (anggota jemaat GKPB Padang Luwih).
Persekutuan Pembinaan Iman ini diresmikan dalam suatu ibadah dilayani oleh Bapak Bishop Dr. I Wayan Mastra pada tanggal 4 Maret 1990, bertempat di rumah kediaman keluarga Bapak Noer Wachid. Hadir dalam ibadah peresmian ini warga Jemaat Padang Luwih, Kwanji, Legian, pejabat Pengembangan Kesaksian GKPB dan undangan jumlahnya ± 200 orang. Persekutuan Pembinaan Iman ini dilayani dalam koordinasi pelayanan GKPB Legian yang saat itu dipegang oleh Bapak Pdt. Ketut Suyaga Ayub.
Sebagai kegiatan awal, diadakan kebaktian tiap hari Kamis pukul 19.00 di rumah keluarga Bapak Noer Wachid di perumahan Bualu Indah B3 Nusa Dua. Kegiatan ini berlangsung secara rutin sampai bulan Juni 1990. Namun sampai bulan November 1990 kebaktian tidak berjalan sebagaimana direncanakan, mungkin dikarenakan benturan jadwal antara jadwal pelayanan di Jemaat Kwanji (Bapak. Noer Wachid-Majelis) dan jadwal pelayanan di Persekutuan Pembinaan Iman di Nusa Dua, sehingga Bapak Noer Wachid pada saat itu tidak ada di tempat- Nusa Dua.
Kemudian pada bulan November 1990 terjadi pergantian Pendeta di Jemaat Legian dimana Bapak Pdt. Suyaga Ayub, S.Th. digantikan oleh Bapak Pdt. Drs. Wayan Sudira Husada, M.Th. Semenjak itu kebaktian Persekutuan Pembinaan Iman Nusa Dua dilanjutkan secara rutin. Dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan Bapak Noer Wachid maka kehadiran peserta makin bertambah hingga mencapai ± 15 orang. Suatu hal yang menggembirakan.
Bulan Januari 1991 kebaktian diadakan secara bergiliran dari Keluarga Bapak Noer Wachid, Keluarga Bapak I Gusti Ketut Rahayu, Keluarga Bapak I Gusti Nyoman Suyasa dan dilayani oleh Bapak Pdt. W. Sudira Husada, M.Th. Sementara itu persekutuan menerima bantuan uang dari PBC – Malang sebesar Rp. 80.000/bulan di potong Rp. 10.000 untuk biaya administrasi oleh Pengembangan Kesaksian GKPB. Uang ini dipakai untuk penyelenggaraan kegiatan termasuk sarana, uang transportasi bagi Pendeta yang melayani Rp. 10.000/pelayanan. Kegiatan ini berlanjut sampai 10 Juli 1992 saat Bapak Pdt Wayan Sudira Husada, M.Th. diganti oleh Bapak Pdt. Ketut Sudiana, M.Th. pada tanggal 25 September 1992. Ibadah persekutuan di keluarga I Gusti Nyoman Suyasa dilayani oleh Bapak Pdt. Ketut Sudiana S.Th.
Kegiatan kebaktian persekutuan sempat mengalami masa tenggang – tidak diadakan kebaktian dalam kurun waktu 1992-1996. Mungkin disebabkan oleh berbagai hal yang nampaknya kurang dikomunikasikan secara baik. Pada masa tenggang itu masing-masing anggota kembali ke gereja asalnya, misalnya Bapak Noer Wachid, Bapak I Gusti Ketut Rahayu ke Padang Luwih dan Bapak I Gusti Nyoman Suyasa ke Legian.
PERKEMBANGAN SELANJUTNYA
Tahun 1994 Bali Tourism Development Center menyediakan lahan untuk membangun tempat Ibadah bagi umat dari agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu Dharma dan Buddha. Untuk tempat ibadah umat Kristen Protestan ditangani oleh GKPB. Pada tanggal 19 Maret 1997 pukul 10.00 Persekutuan Pembinaan Iman Nusa Dua di perkenankan mengadakan kebaktian di gedung itu dilayani oleh Bapak Pdt. Ida Bagus Kemenuh, S.Th. yang adalah Pendeta Jemaat Legian. Setelah itu kebaktian rutin berjalan terus mengambil tempat bergiliran dari keluarga anggota persekutuan.
Bangunan gedung
gereja di Puja Mandala diresmikan/ ditahbiskan dalam sebuah ibadah oleh Bapak
Bishop Dr. W Mastra dan Dr. Epting dari Jerman pada 22 Maret 1997. Seiring
dengan itu dilakukan persiapan untuk mengubah status Persekutuan Pembinaan Iman
Nusa Dua menjadi Jemaat GKPB Bukit Doa. Semenjak itu terus terjadi penambahan
anggota dan pengunjung ibadah secara signifikan, walaupun jumlah anggota 16 KK
pengunjung kebaktian mencapai 70 orang dewasa lebih.
Pada tanggal 20 Desember 1997 komplek rumat ibadat Puja Mandala diresmikan oleh Menteri Agama Bapak Tarmizi Taher dan Gubernur Bali Bapak Ida Bagus Oka.
PERSIAPAN PENJEMAATAN
Langkah-langkah
penjemaatan dimulai dengan koordinasi antara Jemaat Legian dan Persekutuan
Pembinaan Iman Nusa Dua diprakasai oleh Majelis Jemaat Legian. Selanjutnya oleh Persekutuan Pembinaan Iman
ditunjuklah duabelas 12 orang untuk membantu perkembangan lebih jauh dan
pemantapan pelayanan. Persekutuan pembinaan iman Nusa Dua. Jumlah orang ini mengikuti konsep jumlah suku
bangsa Israel dan konsep jumlah murid Tuhan Yesus.
Saudara-saudara
itu adalah :
1. Bapak. I Gusti Wayan Sudiksa
2. Bapak. Rahmat Tjahjadi
3. Bapak. I Gusti Nyoman Suyasa
4. Bapak. Noer Wachid
5. Bapak. I Gusti Ketut Rahayu
6. Bapak. I Gusti Nyoman Mudiasa
7. Bapak. Made Suastika Adi
8. Bapak. Yacob Leuwol
9. Ibu Agustina Tjahjadi
10. Ibu Sally E. Sabaru
11. Ibu Yunita Trisnawati
12. Ibu Ramona Aui
Untuk menjalankan tugas ini saudara-saudara tersebut didoakan dalam kebaktian. Tidak ditahbiskan.
Pada tanggal 4 Mei 1997 diadakan rapat antara Majelis Jemaat Legian, Majelis Sinode GKPB dan Persekutuan Pembinaan Iman Nusa Dua. Dalam rapat ini ditetapkan bahwa Persekutuan Pembinaan Iman Nusa Dua dipandang layak untuk dijemaatkan sesuai dengan tata gereja GKPB.
Pada tanggal 26 Juli 1998, Persekutuan Pembinaan Iman Nusa Dua diresmikan menjadi Jemaat GKPB Bukit Doa oleh Bapak Bishop Pdt. Dr. I Wayan Mastra dengan majelis jemaatnya 12 orang yang ditunjuk terdahulu – Majelis Jemaat ini ditahbiskan sekaligus saat itu.
Pada acara itu juga diadakan serah terima pelayanan dari Bapak Pdt. Ida Bagus Kemenuh, S.Th. kepada Bapak Pdt. Nyoman Yohanes, M.Th. untuk melayani Jemaat Bukit Doa. Dengan demikian jemaat Bukit Doa tidak dirangkap lagi oleh Jemaat Legian.
Pada 15 November
1998 Bapak Pdt. Nyoman Yohanes, M.Th. digantikan oleh Bapak Pdt. Ketut Sudiana,
M.Th. karena mendapat tugas baru yaitu memimpin Yayasan Dwiya Pradhana
Bhakti. Bapak Pdt. Ketut Sudiana, M.Th.
melayani Jemaat Bukit Doa sampai tahun 2004.
