Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali
| Dang Kayangan | |
Pura Silayukti |
|
| Nama Penanggungjawab | I Komang Nuriada |
| Telpon Penanggungjawab | 081999270900 |
| Jadwal Ibadah | Buda Kliwon wuku Pahang (enam bulan sekali) |
| Alamat | Jl. Silayukti, Padangbai, Kec. Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali 80871, Padangbai, Manggis, Karangasem |
Keberadaan Pura Silayukti erat hubungannya dengan keberadaan Mpu Kuturan yang mampu menata kehidupan Bali terutama dalam kepercayaan beragama, karena awalnya pulau Bali ini terdapat banyak sekte dengan berbagai kepercayaan sehingga rawan terjadinya konflik, untuk itulah beliau ditugaskan untuk menatanya sehingga dikenal dengan adanya desa pakraman yang memiliki pura kahyangan Tiga
Kata
Silayukti berasal dari kata “sila” yang artinya dasar dan “yukti” berarti benar
kalau digabungkan menjadi dasar dari kebenaran, sehingga bagi anda yang
bersembahyang di tempat suci ini, benar-benar memegang teguh kebenaran, sesuai
dengan ajaran agama. Pujawali ataupun odalan di Pura Silayukti setiap 6 bulan sekali
(setiap 210 hari), sesuai penanggalan dalam kalender Bali bertepatan dengan
Buda (Rabu) Kliwon wuku Pahang.
Pura Silayukti memiliki
hubungan erat dengan keberadaan perjalanan Mpu Kuturan di pulau Dewata Bali
yang juga banyak membawa pengaruh akan tatanan kehidupan beragama di Bali.
Mpu Kuturan memang tokoh spiritual Hindu pada abad ke-11 yang
sangat berjasa, selalu mementingkan orang banyak dan berbuat tanpa pamerih,
beliau adalah Mpu Kuturan, memiliki keyakinan penuh adanya hukum karma karena
setiap perbuatan baik maka baik akan membuahkan hasil yang baik, begitu juga
sebaliknya. Semua umat dianggapnya sebagai saudara, diberikan gelar Pandita
ahli atau Brahmanasista dalam pustaka Manawa Dharmasastra. Nama beliau adalah
Mpu Rajakerta dan menjabat sebagai senapati Kuturan pada abak ke-11, sehingga
dikenal juga sebagai Mpu Kuturan, seorang Sukla Brahmacari tidak pernah kawin
dan tidak memiliki keturunan
Mpu Rajakerta sendiri pada awalnya adalah seorang ksatria yang
menjabat sebagai senapati Kuturan pada pemerintahan Guna Prya Dharma Patni
(adik prabu Airlangga) dan Udayana Warmadewa beliau bertugas sebagai Ketua
Majelis Pekira Kiran Ijro Makabehan yang merupakan dewan penasehat dari seluruh
senapati, Pandita Dangacarya dan Dangupadhyaya. Ini menjadi kesempatan yang
sangat baik, sehingga beliau bisa menyelami dan mengikatkan pengabdianya kepada
kepada masyarakat Bali.
Setelah
tidak menjabat lagi sebagai senapati Kuturan, maka beliau menjadi Bhagawanta
Kerajaan Bali sehingga diberi gelar Mpu Kuturan, ditugaskan di Padang (sekarang
Padang Bai) disinilah sang mpu membuat pesraman, sekarang dikenal dengan Pura
Silayukti. Beliau membangun parahyangan sebagai tempat melakukan yoga samadi.
Rakyat Padang sangat bakti dan beruntung akan kehadiran beliau. Mpu Kuturan merupakan
lima orang suci bersaudara atau dikenal dengan sebutan Panca Pandita yaitu Mpu
Gnijaya, Mpu Ghana, Mpu Sumeru, Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah.