Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali
| Kahyangan Jagad | |
![]() |
|
Pura Kehen |
|
| Nama Penanggungjawab | Sang Mangku Dalem Slaungan (Drs. Sang Made Suryawan) |
| Telpon Penanggungjawab | 081319618585 |
| Jadwal Ibadah | 1. Budha Keliwon Wuku Sinta 2. Karya Agung Bhatara Turun Kabeh setisp 3 tahun sekali pada sasih kelima |
| Alamat | Br. Pekuwon, Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Cempaga, Bangli, Bangli |
PURA KEHEN-BANGLI
Om Swastyastu
Lokasi Pura Kehen
Pura Kehen terletak
di Br.Pekuwon, Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Pura ini
terletak pada kaki bagian selatan Bukit Bangli, dan dengan agungnya berdiri di
pinggir sebelah utara jalan besar menghadap ke selatan dan Di belakang di
sebelah utara Pura terbentang keindahan panorama Bukit Bangli. Jarak Pura Kehen
dari Denpasar sekitar 43 km, 20 km dari Ubud dan 23 km dari Kintamani serta 3
km dari Desa Wisata Penglipuran.
Dalam tulisan-tulisan yang bersumber dari berbagai prasasti,
Pura Kehen di Bangli dimasukan ke dalam katagori Pura-pura terkuno yang
terdapat di Bali, ini bisa dilihat dari sejarah Pura Kehen yang berdasarkan
beberapa Prasasti yang tersimpan di Pura Kehen.
Sejarah Pura Kehen
Berdasarkan tiga buah prasasti tembaga yang terdapat dan
tersimpan yang menyangkut keberadaan Pura tesrsebut, terutama prasasti ketiga
mengenai petunjuk-petunjuk kepada para penduduk sekitar pada waktu ada
upacara-upacara besar di Pura Kehen, bertarikh Saka 1126 (1204 Masehi).
Prasasti ini memuat nama raja Sri Dhanadhiraja beserta permaisurinya Bhatara
Sri Dhanadewi. Raja Sri Dhanadhiraja adalah putra raja Bhatara Parameswara dan
ibu raja Bhatara Parameswara adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti.Menurut A.J
Bernert Kempers dalam bukunya “Bali Purbakala” (terjemahan Drs.R.Soekarmono)
yang mengatakan bahwa di Bali ada Pura yang sangat tersohor bernama Pura Kehen
dan nama itu diambilkan dari nama Pura kecil yang berada didepannya. Mungkin
nama Hyang Api dalam prasati pertama berubah menjadi Hyang Kehen dalam prasasti
ketiga (kehen=keren=tempat api). Untuk menelusuri lebih jauh kapan
kira-kira Pura Kehen didirikan, kita dapat menghubungkannya dengan dua buah
prasasti lainnya lagi yang lebih tua.
Dr.R.Goris dalam bukunya “Prasasti Bali I dan II”
menyebutkan bahwa prasasti pertama yang terdiri dari 18 baris dan berhasa Bali
Kuno ada menyebutkan nama “Hyang Karinama”… Hyang Api di desa Simpat
Bunut (“Wangunan pertapaan di Hyang Karinama jnganangan Hyang Api… di Wanua
di Simpat Bunut – Hyang Tanda”). Prasasti ini juga menyebutkan nama-nama
bhiksu. Prasati pertama ini tidak berangka tahun, tetapi Dr.R.Goris
menggolongkan ke dalam tahun Saka yang berkisar antara 804 – 836 (antara tahun
882 – 914 Masehi).
Prasasti kedua yang hanya tinggal lembaran penghabisan saja
terdiri dari 10 baris dan berbahasa Jawa Kuno ada menyebutkan nama Senapati
Kuturan, Saphata dan nama-nama pegawai raja. Prasasti kedua ini juga tanpa
angka tahun, namun Dr.R.Goris menggolongkannya ke dalam tahun Saka antara 938 –
971 (antara tahun 1016 – 1049 Maehi).
Jika dikaji secara etimologis dalam perkembangan selanjutnya
nama Hyang Api yang termuat dalam prasati pertama menjadi Hyang Kehen dalam
prasasti ketiga dan selanjutnya menjadi Pura Kehen sekarang Ini, maka ini
berarti bahwa Pura Kehen telah ada pada tahun Saka antara 804 – 836 (antara
tahun 882 – 914 Masehi). Jadi Pura Kehen sudah ada pada akhir Abad IX atau
permulaan Abad X Masehi.
Ketiga prasasti tembaga tadi telah dibaca oleh Dr.P.V.Van Stain Callenfels dan teks lengkapnya dimuat dalam buku “Epigraphina” tahun 1926. Isinya:
1. Prasasti
I : diperkirakan dari
Abad IX menyebutkan Hyang Api, Hyang Karinama, Hyang Tanda, serta
nama-nama bhiksu. Bahasanya bahasa sanskerta.
2. Prasasti II : memakai bahasa Jawa Kuno,
menyebutkan “Sang Senapati Kuturan”
3. Parasati
III : Bahasa Jawa Kuno , angka tahun Saka
1126, Masehi 1204 menyebutkan nama Hyang Kehen yang memerintah pada tahun
tersebut adalah Bhatara Guru Sri Adhikunti Ketana.
Keberadaan Pura Kehen yang memiliki keterikatan dengan
sejarah Desa Bangli termuat dalam prasasti No.705 Prasasti Pura Kehen C. Ketika
itu tahunSaka 1126 Wesaka masa tithi daca mi sukla paksa,ma, kaca, waraning
Krulut atau tanggal 10 mei 1204 Masehi, Raja Ida Bhatara Guru Sri Adhikunti
Ketana mengeluarkan Bhsama, memerintahkan semua penduduk wilayah desa Bangli
untuk kembali ke desanya.
Upacara di Pura Kehen.
1. Upacara yang secara
rutin dilaksanakan di Pura Kehen setiap enam bulan (berdasarkan kelender Bali)
adalah Piodalan yang jatuh pada setiap Budha Keliwon Wuku Sinta yang bertepatan
dengan hari raya Pagerwesi. Upacara ini biasanya berlangsung selama lima hari
yang mana setiap hari selama upacara, semua Banjar dari desa Cempaga, Kawan,
Bebalang, Demulih, Penatahan, Tanggahan, Pukuh, Kubu, dan Penglipuran
menghaturkan bakti bergiliran dengan acara Mepeed.
2. Upacara tingkatan utama diselenggarakan tiga tahun sekali,
pada sasih kelima dengan sebutan Karya Agung Bhatara Turun Kabeh.
Upacara ini juga disebut Ngusaba Dewa, biasanya berlangsung 9
sampai 11 hari. Yang paling utama pada upacara ini adalah pada Prosesi upacara
Melasti dimana seluruh Pratima,Tapakan dan Benda sakral se-wilayah bebanuan
yang terdiri dari sekitar 19 banjar adat ikut bersama melaksanakan
upacara Melasti (biasanya ke Pantai Watuklotok, Tirta Sudamala, atau Tamansari)
dengan ribuan orang dan puluhan kelompok mengusung Gambelan dengan tetabuhan
Baleganjur akan mengiringi prosesi upacara ini dengan berjalan kaki. Prosesi
upacara ini sebagai potret kebersamaan krama Bangli khususnya dari krama
Bebanuan Pura Kehen yang disebut Gebog Domas. Selama Upacara
berlangsung secara bergilir desa-desa pemujanya akan menghaturkan Tarian sakral
berupa Baris Dadap, Baris Perasi, Baris Gowak serta tarian Rejang dan Pendet,
dan tarian klasik Nuwek Kebo.
Keunikan Pura Kehen
Tak seperti pura di Bali pada umumnya, pintu masuk Pura
Kehen memiliki keunikan tersendiri. Jika di pura lain pintunya berupa candi
bentar (candi terbuka), tak begitu pada Pura Kehen. Pintu masuk Pura Kehen
berbentuk candi kurung (candi tertutup).
Tak hanya itu keunikan yang dimiliki Pura Kehen Bangli.
Terdapat pula sebuah bale kukul pada sebuah dahan pohon beringin yang tumbuh
sangat besar di areal Pura Kehen ini juga sangat disakralkan oleh masyarakat.
Masyarakat lokal percaya bahwa jika batang pohon beringin tersebut patah, itu
berarti sebuah musibah (grubug) akan terjadi. Kesimpulan ini diambil dari
banyaknya peristiwa yang telah terjadi turun temurun sejak ratusan tahun silam.
Bahkan, letak batang yang patah juga diyakini sebagai pertanda bahwa seseorang
akan mengalami musibah.
Sebagai contoh, ketika Raja Bangli meninggal dunia, batang
pohon yang terletak di Kaja Kangin (utara-timur) akan patah. Bila batang pohon
sebelah Kaja Kauh (barat daya) yang akan patah, maka yang meninggal adalah
seorang pendeta. Pertanda bagi masyarakat umum jika musibah menimpa adalah
batang pohon sebelah Kelod Kangin (timur laut ) maupun Kelod Kauh
(tenggara) yang akan patah.
Sebagai Pura Kahyangan Jagat, setiap upacara yang
dilaksanakan di Pura Kehen, desa yang tergabung dalam Gebog (tatanan
masyarakat) Domas (800) dan Bebanuan Pura Kehen memiliki peran masing-masing,
mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Dalam hal wewangunan misalnya, Banjar
Kawan bertanggung jawab untuk membangun warung matanding, Banjar Tegal membuat
Penyawang, Sanggar Tawang Tutuan, Bale Gading dan Bale Timbang. Banjar Pekuwon
membangun warung pamuspaan, Banjar Pule membangun warung ilen-ilen, Banjar
Blungbang membangun warung mejahitan. Untuk Banjar Gunaksa dan Sidembunut
bertugas membangun linggih bhatara Perampean, Banjar Kubu membangun linggih
bhatara Melasti, tutuan, panggungan dan pawedaan. Banjar Geria membangun
sanggar agung peselang, sanggar agung pemalik sumpahan. Banjar Bebalang
membangung Bale Perayungan dan Banjar Nyalian membangun warung peratengan.
Pembagian tugas tersebut dilakukan berdasarkan dresta dan
sukat yang telah dilaksankan dari tahun-ketahun dan tidak akan pernah diubah
atau ditukar-tukar. Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tugas
masing-masing, juga memunculkan semangat kebersamaan dan saling memiliki
terhadap karya yang berlangsung di Pura Kehen.
Pemangku di Pura Kehen berjumlah 33 orang yang terbagi atas
dua golongan, yakni Dangka dan Pemaksan. Dangka terdiri dari 16 orang pemangku
yang bertugas sebagai pangempon khusus perampean atau pelinggih-pelinggih di
jeroan. Sedangkan Pemaksan yang terdiri dari 17 orang bertugas sebagai pembantu
Dangka.
Om Santih Santih Santih Om
Naskah: I Wayan
Sudarma
Sumber: Purana Pura Kehen
