Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali
| Dang Kayangan | |
![]() |
|
Pura Gunung Payung |
|
| Nama Penanggungjawab | I Ketut Musir (Pemangku) |
| Telpon Penanggungjawab | 081246401342 |
| Jadwal Ibadah | PURNAMA KAULU |
| Alamat | Jalan Gunung Payung, Kutuh, Kuta Selatan, Badung |
Gunung Payung adalah suatu kawasan perbukitan yang berada di daerah pesisir pantai selatan Pulau Bali. Kawasan ini merupakan wilayah yang memiliki potensi sebagai obyek wisata di mana areal di sekitarnya berupa perbukitan yang menghadap langsung dengan Samudera Indonesia. Sehingga bagi setiap pengunjung akan dapat menyaksikan panorama alam perbukitan yang berpadu dengan pemandangan laut, terlebih lagi bila pada sore hari menjelang matahari terbenam. Di atas perbukitan Gunung Payung, kita akan dapat menyaksikan fenomena sunset yang begitu menarik untuk dinikmati. Selain memiliki keindahan alam di sekitarnya, di Gunung Payung juga terdapat tempat pemujaan umat Hindu yaitu Pura Dang Kahyangan Gunung Payung. Pura ini selain sebagai pura prasanak dari Pura Luhur Uluwatu, juga pura tersebut memiliki nilai sejarah. Pendirian pura dan nama kawasan Gunung Payung masih berhubungan erat dengan perjalanan Maharesi Suci yang dikenal sebagai Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra.
Berdasarkan Lontar Dharmayatra yaitu perjalanan suci Maharesi Dang Hyang Nirartha menyebutkan, setelah Maharesi suci itu datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasehat serta wejangan kepada seluruh masyarakat sekitarnya untuk memanfaatkan dan menjaga Pura Luhur Uluwatu. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke arah timur melalui daerah perbukitan. Dan ketika tiba di suatu daerah, tepatnya di sebelah barat daya Bualu (yang sekarang Desa Adat Kutuh), Dang Hyang Nirartha bersama para pengikutnya beristirahat untuk melepas lelah sambil menikmati pemandangan alam yang ada di tempat tersebut. Sementara itu, masyarakat di sekitarnya mengetahui kedatangan Maharesi tersebut sehingga merekapun datang beramai-ramai untuk menghaturkan sembah dan memohonkan tuntunan agama. Setelah mendengarkan keluh kesah dari warga dan memberikan tuntunan kepada masyarakat, maka Dang Hyang Nirartha berusaha untuk memenuhi permintaan warga. Tak lama kemudian Dang Hyang Nirartha menancapkan gagang payung yang dibawanya ke tanah dekat pijakan kakinya. Berkat kekuatan spiritual yang dimiliki, tiba-tiba menyemburlah air dari bekas tancapan tongkat Dang Hyang Nirartha. Air yang bening tersebut akhirnya dianggap sebagai Air Suci dan dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat di sekitarnya.
Sebelum Dang Hyang Nirartha hendak meninggalkan desa untuk melanjutkan perjalanan sucinya, beliau memberikan nasehat dan wejangan kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga Air Amerta (Air Suci Kehidupan) tersebut. Sehingga oleh masyarakat sekitarnya, pada lokasi air suci itu dibangunlah sebuah tempat pemujaan atau pura yang sekarang dikenal dengan nama Pura Dang Kahyangan Gunung Payung. Kemudian sumber air suci tersebut yang berbentuk bulakan kecil hingga sekarang ini masih tetap dirawat dan senantiasa tidak pernah kering walaupun musim kemarau sedang melanda. Air dalam bulakan inilah yang setiap harianya dimanfaatkan sebagai tirta (air) yang diberikan kepada setiap umat Hindu yang datang untuk menghaturkan bhakti di Pura Dang Kahyangan Bukit Payung. Karena kesaktian Dang Hyang Nirartha dengan menancapkan payungnya yang dapat menyemburkan air suci, maka nama kawasan dan pura tersebut menjadi nama "Gunung Payung".
Pura Dang Kahyangan Gunung Payung merupakan tempat pemujaan umat Hindu sebagai "stana" manifestasi "Sang Hyang Widhi Wasa" atau Tuhan Yang Maha Esa dari "Betari Sri" dan "Batari Danu", yang ditandai dengan adanya "Gedong Haggih" pada pura tersebut. "Pamedek yang tangkih" atau pengunjung yang ingin bersembahyang di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung, khususnya pada saat piodalan yang jatuh pada hari "Purnamaning Kawulu Sasih Kawulu". Pura mengalami banyak kerusakan dan telah diadakan pemugaran pelinggih yang penyelesaiannya saat piodalan pada sekitar bulan Januari tahun 2008.
Untuk mencapai kawasan Gunung Payung sangat mudah karena sarana jalan menuju lokasi itu cukup baik dan hanya berjarak sekitar 30 kilometer arah selatan dari ibukota Denpasar menuju arah desa Pecatu, kemudian ke arah Nusa Dua. Kawasan Gunung Payung terletak di dalam wilayah Desa Adat Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Pada saat ini, kawasan tersebut belum dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Badung. Sehingga di sekitar kawasan gunung Payung belum ada sarana dan fasilitas untuk kepariwisataan.
