Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali
| Masjid | |
![]() |
|
Masjid Nurul Huda |
|
| Nama Penanggungjawab | Sahidin, A. Ma |
| Telpon Penanggungjawab | 081236 727845 |
| Jadwal Ibadah | Setiap Hari SUBUH DZUHUR ASHAR MAGRIB ISYA 04.39 12.06 15.06 18.16 19.25 Waktu Indonesia Tengah |
| Alamat | Jl. Waturenggong, Desa Gelgel, Gelgel, Klungkung, Klungkung |
Rumah Pertama Muslim Bali
Gelgel adalah sebuah desa di kecamatan Klungkung, kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Desa ini memiliki keistimewaan tersendiri mengingat factor sejarahnya yang cukup panjang. Sejarah yang berhubungan dengan perjalanan masuknya Islam ke Pulau Bali. Salah satu keistimewaan desaini adalah adanya aturan setempat yang mengharuskan kepada desa disana dari kalangan umat Islam.
Inilah permukiman muslim tertua di pulau Bali. Dari sinilah sejarah komunitas Islam di Pulau Dewata bermula. Di desa yang berjarak sekitar enam puluh kilometer arah timur Denpasar ini pula banyak jejak-jejak penyebaran Islam masih terlihat hingga kini. Saat ini setidaknya ada sekitar 280 kepala keluarga atau sekitar 700 jiwa yang hidup di desa itu.Memasuki kampung Islam Gelgel jika dari arah selatan (Denpasar), kita akan melewati perempatan yang di tengah-tengahnya berdiri patung prajurit Kerajaan Gelgel tempo dulu. Dari perempatan tersebut, kita bisa langsung melihat menara masjid Nurul Huda yang terkenal di Kampung Gelgel.
Nama-nama masyarakat Kampung Gelgel dulunya
masih membawa nama-nama khas Bali seperti: Wayan, Made, Nyoman atau Ketut.
Tetapi seiring perjalanan jaman, nama-nama Bali tidak dipakai lagi dan diganti nama-nama
modern yang berbau Islami.
Sebagai permukiman muslim, Kampung Gelgel punya tradisi beda dengan daerah lain di Bali yang didominasi para kerabat yang beragama Hindu. Di bulan-bulan tertentu, Kampung Gelgel menggelar pentas seni“ Rodatan”, sebuah pentas music Islami yang dimainkan warga sekitar.
Di kampungini, bisa dijumpai masjid
tertua di Bali. Nurul Huda, demikian nama masjid itu. Tempat ibadah itu berdiri
megah di tengah-tengah Kampung Gelgel. Di halaman masjid yang cikal-bakalnya dibangun
sekitar abad ke-14 ini, terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17
meter.
Diantara yang menarik dari masjid ini
adalah mimbar masjidnya yang terbuat dari kayu jati dan dihias dengan ukiran mutif
daun dantumbuhtumbuhan yang merupakan salah satu ciri dari seni Islami yang
melarang penggunaan gambar mahluk bernyawa. Bentuk mimbar di masjid ini memiliki
banyak kemiripan dengan mimbar mimbar kuno yang ada di masjid masjid kuno di
pulau Jawa seperti contoh mimbar kuno di Masjid Sendang Dhuwue dan masjid
Mantingan.
Di mimbar ini juga terdapat inskripsi yang menjelaskan renovasi masjid ini di tahun 1280 Hijriah bertepatan dengan tahun 1863 Miladiyah. Dari inskripsi tersebut dapat diketahui perbaikan masjid ini dilakukan pada tanggal 7 Juli 1280H / 1863M. meskipun tidak diketahui secara pasti kapan masjid ini pertama kali dibangun namun dipastikan bahwa masjid ini telah berdiri disana jauh sebelum tahun 1863M.
Sejak berdiri Masjid Nurul Huda dari
zaman Kerajaan Gelgel telah mengalami beberapa tahapan renovasi dan
rehab, sampai akhirnya pada tahun 1989 M bertepatan dengan tahun 1409 H. Masjid
Nurul Huda dibangun ulang dengan konstruksi beton berlantai II, dan bagian
atapnya masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan renovasi terakhir dilakukan
padaTahun 2010 M /Tahun 1431 H.
Sejak awal berdiri dimasa kerajaan Gelgel,
Masjid ini bernama “Masjid Nurul Huda” yang berarti “cahaya petunjuk” sampai sekarang
belum berganti nama, dan jenis tipologi masjid ini adalah “Masjid Bersejarah”
meskipun bukti-bukti sejarah hamper tidak bisa dipertahankan karena termakan usia,
namun diyakini Masjid inilah yang pertama kali dibangun di Bali seiring dengan masuknya
Islam pertama ke Bali.
Kelompok para prajurit Muslim dari Majapahit
inilah yang disebut sebagai moyang keturunan masyarakat Islam Kampung Gelgel
yang ada sekarang ini. Mereka inilah penyebar Islam pertama di Bali. Mereka tak
hanya berdiam di Gelgel. Sebagian ada yang tinggal di Kampung Lebah, Kusamba,
serta Kampung Toyapakeh di Nusa Penida.
