Rumah Ibadah

Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah

Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali

Dang Kayangan

Pura Taman Pule

Nama Penanggungjawab I Made Darma
Telpon Penanggungjawab 081338154028
Jadwal Ibadah Saniscara Kliwon Kuningan
Alamat Br. Satria Desa Mas Ubud, Mas, Ubud, Gianyar

<!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} </style> <![endif]-->

SEJARAH PURA TAMAN PULE

 

Ida Mas (disebut juga Ida Buk Jambe yang dikenal dengan Pandita Sakti) merupakan salah satu putera dari Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh atau Danghyang Niratha yang menurunkan Brahmana Mas di Bali.Dengan memiliki sebuah tongkat sakti dimana pada zaman dahulu, Beliau juga dikisahkan memiliki sisya yang banyak dan membangun sektor pertanian untuk menghidupi sisya setianya itu.

Tersebutlah dalam Babad Bendesa Manik Mas yang diambil dari Lontar Usana Bali Saka 1297 dalam mencari kebenaran dalam ketidaktahuan diceritakan bahwa :

Diceritakan Ida Mas inilah nantinya dikenal nama pura yang cukup unik ini serta peninggalan yang dipegangnya sebagai warisan sang ayah. 

Ida Mas mendapatkan warisan gelung tersebut karena saat pembagian warisan sang ayah lupa memberinya bagian harta. 

Semua harta kekayaan yang dikuasai Dang Hyang Nirartha dibagikan pada anak-anaknya kecuali Ida Mas. Yang tersisa untuknya di pasraman Taman Pule (Mas) hanyalah suamba (pemujaan), gelungan (mahkota) joged dan sebuah tongkat. 

Ida Mas yang juga dikenal dengan nama Ida Buk Jambe dari Desa Mas akhirnya tinggal di Desa Munduk Galang. 

Layaknya seorang putra brahmana yang kesohor Ida Mas pun ma-dwijati dengan gelar Pandita Sakti Magelung, karena Ida Mas memiliki gelung sakti. Memiliki sisya banyak, Pandita Sakti Magelung membangun sektor pertanian untuk menghidupi sisya setianya itu.

Tapi kemudian utusan Kerajaan Mengwi yang bergelar I Gusti Ngurah Mambal bersama prajurit-prajuritnya tanpa sengaja merusak pertanian Pandita Sakti. 

 

Sambil beristirahat melepas lelah para prajurit ini pun melepaskan kuda-kudanya dan memakan tanaman Pandita Sakti. Tak hanya kuda para prajurit, kuda I Gusti Ngurah Mambal yang disebut Ki Penandang Kajar pun turut serta. 

Terang hal ini membuat Pandita Sakti marah dan ingin membunuh kuda I Gusti Ngurah Mambal. Merasa mau dibunuh lalu kuda tersebut lari ke arah selatan. Dengan tembakau yang selalu dikunyahnya, Pandita Sakti melemparkannya ke kuda kesayangan I Gusti Ngurah Mambal. Kejadian ini pun membuat desa itu dikenal dengan nama Sampara (dilempar). Tembakau yang dilemparkan tersebut bukan tembakau biasa. 

Lemparan itu membuat kaki kuda tersebut patah. Sehingga daerah itu pun di beri nama Silungan (Banjar Silungan). Meski kaki kuda itu telah patah, tapi dengan sekuat tenaga tetap berlari hingga ditemukan dalam keadaan mati di Timur Munduk Galang.

Merasa di perlakukan seperti itu I Gusti Ngurah Mambal berniat balas dendam dengan mengumpulkan kekuatan di Kerajaan Mengwi. 

Tampaknya kesaktian Pandita Sakti tak dapat diremehkan, rencana balas dendam tersebut telah diketahuinya. Lalu beliau bersemedi dengan sarana japa mantra dan bunga.Dilemparkannyalah bunga tersebut ke Barat Laut agar pasukan Mengwi takut, tempat jatuhnya bunga tersebut dikenal dengan nyeh keuningan. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Banjar Nyuh Kuning.Bunga berikutnya dilemparkan ke hutan kresek (duri), kini tempat ini dikenal dengan nama Banjar Pengosekan. Bunga terakhir dilemparkan ke atas, lemparan kali ini menyebabkan dunia diselimuti awan tebal, hujan, angin kencang disertai suara makuwus (gemuruh) sehingga menyebabkan jurang di sebelah barat Munduk Galang banjir besar.

Setelah melemparkan ketiga bunga itu, Pandita Sakti kembali ke pesanggrahannya di Munduk Galang. Lalu melakukan samadi dengan sarana tongkat warisan ayahnya. 

Kini awan tebal kembali datang entah darimana hingga menyelimuti sekelilingnya hingga tak bisa dilihat tembus oleh mata. Tongkat itupun kemudian ditancapkan dan keluarlah air lima warna. Pandita Sakti pun berpesan pada para sisyanya agar kelak membangun pura di tempat itu dengan nama Pura Taman Lima. 

Karena tempat tersebut diselimuti awan tebal (limut) maka akhirnya pura itu pun dikenal dengan nama Pura Taman Limut.

 

Sejarah Desa Mas

SEJARAH DESA MAS

 Pada umumnya suatu daerah, khususnya di Bali memiliki sejarah tersendiri dan sering nama daerah tersebut dihubungkan dengan sejarah yang tertulis dalam Babad, Lontar, Prasasti dan lain sebagainya.Desa pada mulanya adalah kumpulan kelompok manusia yang tinggal disuatu tempat, lalu kelompok-kelompok manusia tersebut membentuk banjar/dusun dan akhirnya banjar/dusun berkumpul membentuk suatu desa.

     Menurut beberapa sumber seperti Sulingih, Pemangku dan tokoh-tokoh masyarakat Desa Mas belum ditemukan bukti yang pasti tentang terbentuknya Desa Mas. Diperkirakan perkembangan Desa Mas mulai berkisar antara abad ke-13 dan ke-14.

     Pada jaman Kerajaan Bedahulu sekitar abad ke-13 yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Sri Aji Astra Sura Bumi Banten dengan gelar Sri Tapolang atau Sri Gajah Waktra, merupakan seorang raja yang terkenal dengan keangkuhan dan kezalimannya karena kesaktiannya, serta didukung oleh kehandalan semua menteri dan para patihnya seperti Pasung Grigis, Basur dan lain sebagainya. Mendengar Kerajaan Bedahulu di Bali demikian keadaannya, maka Sri Aji gemet Raja Majapahit II alias Sri Jaya Negara putra dari Sri Arsa Wijaya (Prabu Kertha Rajasa Jaya Wardana) mengutus Gajah Mada untuk menyerang Bali yang didampingi oleh Panglima perang Arya Damar dan beberapa arya lainnya. Dalam pertempuran yang sangat sengit akhirnya Kerajaan Bedahulu kalah.

     Tersebutlah diantara sekian banyak para arya yang datang dari Majapahit ada beberapa yang menetap di Bali, untuk membenahi situasi yang kacau balau dan porak poranda setelah dikalahkan oleh Majapahit dintaranya adalah 1) Mas Wilis (nama di Bali) alias Tan Kober, 2) Mas Sempur (nama di Bali) alias Tan Kawur, dan 3) Mas Mega (nama di Bali) alias Tan Mundur. Setelah sekian lama mereka tinggal di Bali, jatuhlah Kerajaan Majapahit yang disebabkan oleh situasi dalam negeri dan desakan perkembangan Agama Islam.

     Beberapa lama kemudian terdengarlah seorang  Brahmana dari Majapahit datang ke Bali, yang tidak betah lagi tinggal di Jawa karena masih kuatnya keinginan untuk mempertahankan Agama Hindu yang terdesak oleh Agama Islam. Beliau tersebut sebagai Pedanda Sakti Bawu Rauh atau dengan nama lain Dang Hyang Nirarta atau Dang Hyang Dwi Jendra.

     Setelah beliau sampai di Bali bersama rombongannya dengan aneka ragam pengalaman, maka sampailan beliau di Desa Mas atas undangan Mas Wilis.  Selama Pedanda Sakti Bawu Rauh berada di Desa Mas, beliau banyak memberikan pengetahuan di bidang agama, sosial, seni budaya dan lain sebagainya kepada Mas Wilis. Setelah Mas Wilis menguasai semua ilmu yang diberikan, maka Pedanda Sakti Bawu Rauh melakukanproses Pedikasaan/Dwijati terhadap Mas Wilis yang diberi gelar Pangeran Manik Mas.

     Sebagai bukti untuk menghormati jasa beliau, Pangeran Manik Mas membuat Pasraman/Geria dengan segala perlengkapannya untuk Pedanda Sakti Bawu Rauh. Demikian pula Pedanda Sakti Bawu Rauh, untuk memperingati kesungguhan kejadian ini beliau membuktikan dengan  menancapkan Tongkat Tangi/Pohon Tangi yang masih hidup sampai saat sekarang yang terletak di Jaba Tengah Pura Taman Pule. Sejak itu beliau memberi nama desa ini adalah Desa Mas. Disamping itu Pangeran Manik Mas mempersembahkan putrinya yang bernama Ayu Kayuan/Mas Gumitir. Dari hasil perkawinan Pedanda Sakti Bawu Rauh dengan Mas Gumitir menurunkan Brahmana Mas yang tinggal di Desa Mas sekarang. Selama beliau bertempat tinggal di Desa Mas, beliau sering melaksanakan Darmayatra di Bali, dan banyak pula beliau menulis lontar yang berisikan ajaran sastra, seni budaya, agama dan lain sebagainya, serta merubah dan menyempurnakan hal-hal dibidang keagamaan dan bangunan-bangunan keagamaan