Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali ditampilkan pada tabel dibawah. Untuk pencarian berdasarkan Kabupaten atau Jenis Rumah Ibadah dapat dilakukan dengan mengisikan kata kunci pencarian di kolom "search" di kanan atas Tabel Data Rumah Ibadah
Data Rumah Ibadah se-Provinsi Bali
| Dang Kayangan | |
![]() |
|
Pura Gunung Lebah |
|
| Nama Penanggungjawab | Puri Saren dan Subak Danu Ubud (Cok Ibah) |
| Telpon Penanggungjawab | 0811385703 |
| Jadwal Ibadah | Buda Kliwon Pagerwesi |
| Alamat | Jl. Raya Ubud No.23, Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, Ubud, Ubud, Gianyar |
<!--[if gte mso 9]><xml>
SEJARAH PURA GUNUNG LEBAH DESA ADAT UBUD
Sejarah Pura Gunung Lebah berkaitan erat dengan perjalanan Maha Rsi Markandya ke Bali. Maha Rsi Markandya memulai perjalanannya ke Bali dari Gunung Raung yang berada di daerah Banyuwangi. Setelah melakukan penanaman panca datu di Pura Besakih, beliau melanjukan perjalannya ke arah bukit Campuhan Ubud. Sesampainya disana, Maha Rsi Markandya takjub akan keindahan bukit tersebut, Bukit tersebut bernama Gunung Lebah. Di daerah Gunung tersebut terdapat aliran sungai yang melintang disana, disebelah baratnya terdapat sungai yang diberi nama Tukad Yeh Wos Kiwa dan di sebelah timurnya bernama Tukad Yeh Wos Tengen.
Dari aliran sungai tersebut kemudian menyatu di daerah selatan Gunung tersebut yang dikenal dengan nama Campuhan (Pecampuhan). Di daerah inilah kemudian Maha Rsi Markandya membangun sebuah tempat suci yang bernama Pura Gunung Lebah. Setelah itu, beliau memulai merambas hutan untuk dibangun sebuah tempat untuk bertapa yang dilanjutkan dengan membangun pemukiman serta membuat lahan untuk bertani.
Berdasarkan lontar Markandhya Purana, sebutan nama Uos atau Wos untuk sungai tersebut sesuai dengan nama pemukinan di daerah itu sejak jaman dahulu. Dalam lontar Markandhya Purana itu terdapat “Wos atau Uos ngaran Usadi, Usadi ngaran Usada, dan Usada ngaran Ubad”, dari kata Ubad ini di distorsi menjadi kata “Ubud”. Penamaan untuk daerah itu masih berlaku hingga saat ini yang dikenal dengan nama Ubud.
Cultural Heroes seperti Maha Rsi Markandya sangat penting bagi pendirian pura-pura di Bali. Sesuai dengan konsep yang beliau ajarkan, idiologi dalam masing-masing daerah itu masih melekat dalam sejarah atau folkor yang beredar di masyarkat seperti sungai Tukad Yeh Wos Kiwa (kanan) dan Tukad Yeh Wos Tengen (kiri) yang menggambarkan ajaran Rwa Bineda. Setelah berjasa dalam pembangunan Pura Gunung Lebah Maha Rsi Markandya kemudian moksah di daerah yang dulu bernama Sarwa ada dimana sekarang dikenal dengan Desa Taro.
Pura Gunung Lebah
Terdapat mitos yang melekat dalam Pura tersebut, diceritakan bahwa dulunya di sekitar Pura Gunung Lebah terdapat dua raksasa luh (wanita) dan muani (pria) yang tinggal di sebuah goa di aliran Tukad Yeh Wos Kiwa. Peristiwa ini bermula saat para penari rejang yang hilang secara misterius saat Ngayah di Pura Gunung Lebah, akhirnya diketahui oleh masyarakat bahwa mereka menghilang akibat dimakan oleh raksasa yang tinggal di goa Aliran Tukad Yeh Wos Kiwa.
Akhirnya masyarakat mencoba membunuh raksasa tersebut, yang akhirnya kedua raksasa itu mati di tangan para warga. Raksasa muani (pria) mati karena di tusuk menggunakan cangkul oleh seorang petani di sebuah Desa yang sekarang disebut Penestanan sedangkan raksasa luh mati karena goa tempat tinggalnya di bakar oleh masyarakat setempat. Artefak dari raksasa tersebut sampai saat ini masih ada di sekitar kawasan Pura Gunung Lebah seperti adanya goa raksasa, lesung raksasa, pasar raksasa, dan kuburan raksasa.
Di Pura Gunung Lebah terdapat Gedong Barong yang berfungsi untuk menyimpan atau menaruh barong. Meru Tumpang Telu (tingkat tiga) berfungsi untuk memuja Tri Murti yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa. Pelinggih Bhatara Bayu berfungsi untuk memuja Bhatara Bayu yang merupakan sesuhunan yang melinggih di Pura Gunung Lebah. Meru Tumpang Pitu (tingkat tujuh) berfungsi untuk memuja Sapta Dewata (Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa). Catu berfungsi untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di Gunung Batur.
Ada juga bangunan Limas yang berfungsi untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di Gunung Agung. Meru Tumpang Lima (tingkat Lima) berfungsi untuk memuja Panca Dewata yakni Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, dan Siwa. Meru Tumpang Dua (tingkat dua) berfungsi untuk memuja Bhatara Sri sebagai Dewi penguasa tanaman padi. Pelinggih Pesimpangan Batu Karu berfungsi untuk memuja Ida Bhatara yang berstana di Pura Batu Karu, Penebel, Tabanan. Pelinggih Bhatara Wisnu berfungsi untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Terdapat dua buah patung di bagian depan yaitu di sebelah kanan terdapat patung Arda Nara Swari dan di sebelah kiri terdapat patung Maha Rsi Markandhya.
Dari masing-masing Pelinggih yang ada di Pura tersebut kita dapat mengetahui hubungan secara ritual dalam kawasan jaringan antara leluhur orang Bali. Terdapat Pelinggih khusus yang digunakan untuk memuja Bhatara yang berstana di Gunung Batur dan Gunung Agung, yang merupakan areal sentral bagi pendirian pura-pura yang besar di Bali, seperti Pura Ulun Danu Batur dan Pura Besakih. Kemudian terdapat juga Pelinggih Pesimpangan Batu Karu untuk pemujaan Bhatara yang ada disana.
Disamping sturktur pura diatas, Pura Gunung Lebah juga menjadi daya tarik wisata bagi para pengunjung yang berkunjung ke Bali khususnya daerah Ubud. Keberadaan Pura ini cukup strategis karena berdekatan dengan Campuhan yang memiliki keindahan alam yang alami. Selain itu Pura Gunung Lebah juga menjadi penguat identitas orang Bali untuk senantiasa mengingat para leluhur mereka serta menjadi tempat dari pemujaan Dewa-Dewa yang menjadi kepercayaan bagi masyarakat Bali, khususnya di Ubud.
Maharsi Markandeya ada ditegaskan:
Mwah ri pangiring banyu Oos ika hana Wihara pasraman sira rsi Markandya iniring para sisyan ira, makadi kula wanduan ira sira sang Bhujangga Waisnawa....”
Artinya :
di pinggir sungai Oos itu terdapat sebuah Wihara sebagai pasraman Ida Maharsi Markandeya disertai oleh muridnya, seperti sanak keluarga sang Bhujangga Waisnawa.
